Sabtu, 03 November 2012

DISINI AKU MENUNGGUMU SUAMIKU

Suamiku,
Sore ini aku menunggumu. Aku sudah mandi. Aku juga sudah Shalat. Dan aku sudah mempercantik diri suamiku. Walau hanya dengan usapan bedak tipis dan goresan lipstick seadanya. Semata-mata untukmu suamiku. Bukan untuk orang lain.

Suamiku,
Engkau pasti lelah. Sangat lelah tentunya. Setelah seharian bekerja. Engkau juga pasti sudah lapar setelah memeras otak dan keringat seharian.

Jangan khawatir suamiku. Aku sudah mempersiapkan sayur asam kesukaanmu. Juga tempe goreng yang menjadi favoritmu. Nanti kita makan bersama-sama seperti biasanya. Aku tahu engkau pasti akan senang dan lahap menyantapnya. Aku yakin itu.

Suamiku,
Tahukah engkau betapa bahagianya aku saat ini? Engkau sekalipun tak pernah mengeluh. Ataupun sampai
marah kepadaku soal makanan. Begitu juga soal lain-lainnya. Walaupun hidup kita serba pas-pasan. Kita juga sering makan seadanya. Engkau malah banyak membesarkan hatiku. Mengajarkan aku untuk menerima dan mensyukuri setiap rezeki yang Allah berikan kepada kita.
Aku masih ingat kata-katamu suamiku," Dengan bersyukur akan jauh terasa lebih nikmat walau makan seadanya. Apalagi tetap dalam kebersamaan."

Alangkah bahagianya aku. Alangkah damainya hatiku.

Suamiku,
Aku menunggumu. Aku akan selalu setia menunggumu. Aku ingat dulu, betapa setianya engkau menungguku. Menungguku dalam ketidakpastian. Dalam sebuah harapan. Dengan tetap bertahan dalam tipisnya sebuah harapan untuk memiliku. Saat engkau menjatuhkan pilihan kepadaku. Menjatuhkan pilihan untuk menjadi pendamping hidupmu.

Suamiku,
Aku juga masih ingat sifatmu yang pantang menyerah itu. Engkau selalu berusaha untuk meraih simpatiku. Untuk menaklukkan hatiku. Tutur katamu yang sopan itu. Akhlakmu yang mulia itu. Dan juga ketakwaanmu dalam beragamamu itu.
Sungguh!
Membuat aku benar-benar bertekuk lutut di hadapanmu. Hingga akhirnya aku mempersilahkan hatimu untuk singgah dalam hatiku.

Hingga pada suatu hari. Di sore hari itu. Engkau datang bersama kedua orang tuamu untuk meminangku.
Dan dengan senyum tersungging, aku hanya mampu mengangguk tanda setuju kepada orang tuaku. Indahnya bila mengingat itu semua.

Suamiku,
Betapa besar Anugerah dari Allah sehingga aku bisa engkau miliki. Dan aku juga bisa memilikimu. Sulit membayangkan betapa bahagianya aku kini bisa menjadi makmummu.

Suamiku,
Cukup sampai disini dulu. Aku sedang tersenyum bahagia mengingat semuanya. Dan tanpa terasa butir-butir air mata bahagia telah menetes di pipiku.

Cepatlah pulang suamiku,

Disini,
Isterimu selalu setia menunggumu.

Isterimu.. ??

Semoga ada hikmah Akhy dan Ukhty ya,,
Dan bisa dicontoh Para Ukhty dalam kehidupan sehari-hari
Salam santun kami


Lihat yang lainnya ?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar